psikologi outrage culture
mengapa menghujat orang di internet terasa sangat nikmat
Malam sudah larut, layar ponsel menyala terang di depan wajah. Jari kita berhenti bergerak saat melihat sebuah topik yang sedang trending. Ada seseorang yang baru saja melakukan kesalahan konyol, atau mungkin melontarkan opini yang sangat menyinggung. Kolom komentar sudah banjir oleh cacian dan makian. Tiba-tiba, ada dorongan kuat di dada kita. Jari-jari terasa gatal ingin ikut mengetik, ikut memarahi, ikut menghakimi orang tersebut. Dan jujur saja, saat kita menekan tombol kirim untuk sebuah komentar pedas, rasanya... sangat nikmat. Kita mungkin tersenyum tipis membacanya ulang. Pernahkah teman-teman bertanya-tanya, mengapa menghancurkan karakter seseorang di internet bisa terasa begitu memuaskan?
Untuk menjawabnya, mari kita mundur jauh meninggalkan era digital. Mari kita lihat kehidupan nenek moyang kita di sabana ratusan ribu tahun yang lalu. Pada masa itu, manusia tidak punya cakar yang tajam atau kulit yang keras. Satu-satunya alasan kita bisa bertahan hidup dan berevolusi adalah karena kerja sama kelompok. Dalam sebuah suku purba, reputasi adalah segalanya. Jika ada anggota yang egois, mencuri makanan, atau melanggar aturan suku, itu bisa membahayakan nyawa semua orang. Menghukum si pelanggar bukan sekadar ajang balas dendam. Itu adalah insting bertahan hidup. Kita diwarisi dorongan evolusioner untuk sangat peduli pada norma sosial. Masalahnya, insting purba untuk "menjaga ketertiban suku" ini sekarang terbawa ke sebuah ruang tanpa batas bernama internet.
Namun, ada sebuah paradoks di sini. Secara medis, marah adalah emosi yang sangat menguras tenaga. Jantung berdebar lebih cepat, napas memendek, dan hormon stres seperti kortisol membanjiri tubuh kita. Seharusnya, tubuh kita membenci rasa marah karena itu menyiksa. Tapi fenomena outrage culture atau budaya hujat massal ini bekerja dengan cara yang berbeda. Bukannya merasa lelah, kita malah merasa ketagihan. Kita terus me-refresh layar ponsel, menunggu likes pada komentar pedas kita, dan menanti balasan orang lain. Kita menelusuri jejak digital si pelaku dengan semangat seorang detektif. Ada teka-teki kimiawi yang aneh di dalam tengkorak kita. Sesuatu sedang mengubah emosi marah yang seharusnya memicu stres, menjadi sebuah kenikmatan yang bikin candu. Kira-kira, apa yang sedang diretas oleh otak kita sendiri?
Selamat datang di reward pathway atau sirkuit penghargaan di dalam otak kita. Para ilmuwan saraf menemukan bahwa ketika kita menghukum orang lain atas nama moralitas—atau yang sering disebut moral grandstanding—otak kita memprosesnya sebagai sebuah tindakan yang heroik. Area di otak yang bernama ventral striatum tiba-tiba menyala terang. Otak kita merespons dengan menyemprotkan dopamin secara besar-besaran. Ya, dopamin. Zat kimia yang sama persis yang mengalir saat kita memakan makanan manis, menang judi, atau jatuh cinta. Hujatan di internet memberikan kita ilusi kekuasaan dan superioritas. Kita merasa suci. Kita merasa menjadi pahlawan pembela kebenaran tanpa perlu beranjak dari kasur. Terlebih lagi, melihat ratusan orang likes komentar kita memberikan validasi bahwa kita diterima oleh "suku" kita. Inilah wujud asli dari kenikmatan menghujat. Seringkali, kita tidak sedang berusaha memperbaiki dunia. Kita hanya sedang mabuk dopamin dari ilusi merasa paling benar.
Menerima fakta sains ini mungkin terasa sedikit tidak nyaman bagi ego kita. Namun, pemahaman ini adalah langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas pikiran kita. Saat jari kita kembali gatal ingin ikut-ikutan menghujat di kolom komentar, mari kita ambil napas sejenak. Mari kita tanyakan pada diri sendiri: apakah saya benar-benar peduli pada isu ini, atau saya hanya sedang mencari dopamine hit gratisan? Tidak ada salahnya marah pada ketidakadilan yang nyata. Namun, membiarkan algoritma media sosial mengeksploitasi biologi purba kita demi menaikkan metrik platform, jelas bukan sesuatu yang bijak. Otak kita memang didesain untuk menyukai kemarahan massal, tapi kita punya kebebasan untuk tidak menurutinya. Kadang, tindakan paling revolusioner dan cerdas di internet bukanlah berteriak paling keras. Melainkan, memilih untuk diam, mengamati dengan penuh empati, dan menyimpan energi kita untuk hal-hal yang benar-benar mengubah dunia nyata.